Sudah pernahkah Anda mengenal istilah Fatherless Country? Menurut psikolog asal Amerika Serikat, Edward Elmer Smith, fatherless adalah ketiadaan peran ayah dalam perkembangan seorang anak, ketiadaan peran ayah dapat berupa ketidakhadiran secara fisik maupun psikologis dalam kehidupan anak.

Sedangkan Fatherless Country adalah negara dengan peran ayah yang sangat minim. Tentu hal ini disebabkan karena paradigma yang berkembang di masyarakat, seorang ayah hanya wajib bekerja dan mencari nafkah, sedangkan tugas untuk mendidik dan membimbing anak adalah tugas seorang ibu.

Lalu sebetulnya apa saja tugas seorang Ayah? Masa iya sesudah lelah bekerja mencari nafkah seorang ayah masih harus bertanggung jawab terhadap tumbuh kembang anak-anaknya? Lalu bagaimana dengan istilah bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya? Bukankah itu berarti tugas utama ibu adalah untuk mendidik anak-anak?

Mari kita luruskan paradigma keliru ini. Pertama, tugas utama seorang ayah selain mencari nafkah untuk keluarga adalah seorang ayah dituntut untuk bisa mendidik dan mengenalkan nilai-nilai keagamaan pada anaknya. Jika tugas utama ayah hanya untuk mencari nafkah, lalu apa bedanya ayah dengan ATM, didatangi hanya saat ada butuhnya saja.

Dan ketahuilah wahai para ayah, Al-Qur’an sudah mengedepankan sosok ayah dalam pengasuhan. Contohnya ada surat Luqman, Ibrahim, Ya’qub, Imron. Itulah nama-nama ayah teladan yang di catat Al-Qur’an untuk panutan kita menjadi sosok ayah idaman anak-anak kita. Dan 14 dari 17 dialog pengasuhan dalam Al-Qur’an, terjadi antara ayah dan anak. Ternyata ayah lebih sering disebut dibandingkan dengan ibu.

Jikalau para ayah masih ngotot dengan statement ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, maka para ayah adalah kepala sekolahnya. Yang menentukan kebijakan. Yang mengajarkan ketegasan, nilai-nilai disiplin dan bertanggung jawab.

Wahai ayah, ketahuilah. Negeri ini butuh sosok dirimu. Segera. Bukan hanya yang sekedar ada di rumah, tapi juga hadir dan menghangatkan rumah. Yang mau ikut memandikan anak, yang mengajarkan tata cara mandi junub pada anak lelakinya yang pertama kali mengalami mimpi basah. Yang mengajarkan bagaimana gagahnya Utsman bin Affan dalam peperangan.

Wahai ayah, ketahuilah. Jika sedikit saja engkau mau berbaur membagi tugas pengasuhan dengan ibu, mau mendidik anak nilai-nilai agama, mengajarkannya cara wudhu dan shalat berjamaah di mesjid, pastilah nanti kita temui mesjid kita ramai dengan jamaah generasi muda, mesjid kita dihiasi suara merdu tadarus anak-anak kita.

Wahai ayah, setidaknya, hadirlah sesaat sebelum anak-anak menjelang tidur. Ceritakan padanya bahwa Allah adalah satu-satunya tuhan yang harus disembah dan tidak ada tuhan selain Allah. Ceritakan padanya kisah sang Rasul membela agama kita, ceritakan padanya tentang bagaimana manusia diciptakan dan apa tugasnya dibumi.

Dan satu lagi yang terpenting, Ayah. Janganlah sesekali engkau meminta anakmu tumbuh menjadi anak yang shaleh. Sedang ia tak pernah engkau berikan contoh teladan sosok keshalehan dari dirimu. Sedangkan engkau tak pernah menunaikan kewajibanmu untuk mengajarkannya atau bahkan mengenalkannya pada huruf-huruf hijaiyah untuk bisa baca Al-Qur’an. Tunaikan kewajibanmu, ajarkan anak shalat di mesjid, bershalawat, ajak mereka ke majlis ta’lim. Lalu rubahlah negeri ini dengan kehadiranmu di rumah. Agar nanti, dimasa depan kita raih gemilangnya generasi penerus kita. Karena jika ayah mau terlibat dalam pengasuhan anak bersama ibu, maka separuh permasalahan negeri ini akan teratasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *